BEM FEB UNAIR

Fakultas Ekonomi & Bisnis

Wanala Unair Siap Kibarkan Merah Putih di Kilimanjaro, Afrika – Dapat Jaket Bulu Angsa di Tugu Pahlawan

97313large

SEJAK satu setengah bulan lalu, empat anggota Wanala (Mahasiswa Pencinta Alam) Universitas Airlangga (Unair) harus tinggal di base camp, di Kampus B Dharmawangsa. Mereka adalah Catur Panggih Pamungkas, 23; Ismail, 23; Awang Pradana, 22; dan Dicky Arimiantoro, 24.

Empat mahasiswa itu tergabung dalam tim Ekspedisi Kilimanjaro, Wanala Unair. Selama di karantina, mereka tidak boleh melakukan banyak kegiatan, termasuk tidak pulang ke rumah dan tidak kuliah. ”(Karantina itu) untuk meminimalkan cedera yang tidak disengaja,” kata Ismail. Mereka fokus mempersiapkan diri dalam ekspedisi Kilimanjaro.

Sebetulnya, sejak enam bulan lalu, mereka sudah sering menginap di base camp untuk melakukan simulasi dan latihan-latihan lain. Semakin mendekati hari keberangkatan, karantina diperketat. Aktivitas di luar ruang hanya olahraga yang dilakukan dua jam, pagi dan sore.

Kegiatan mereka betul-betul terjadwal. Pukul 22.00 harus sudah tidur dan bangun pukul 05.00. ”Salat, setelah itu olahraga sampai pukul 07.00 atau 08.00,” urai Dicky.

Waktu-waktu di antara itu disibukkan mengurus administrasi dan rencana operasional. Waktu luang di isi dengan membaca buku serta checkup medis. Mereka juga kursus bahasa Inggris di PINLABS Unair tiap Selasa dan Kamis. Sorenya, olahraga lagi pukul 15.00-17.00.

Hampir tidak ada waktu untuk hiburan, meski di sekretariat ada televisi dan PlayStation. ”Kebetulan, memang kurang suka nonton televisi,” kata Dicky. Agar tidak tertinggal informasi, mereka berlangganan koran. ”Kami juga pakai wifi, sehingga bisa online internet,” ungkapnya.

Untuk kebutuhan konsumsi, mereka pesan makanan khusus dari katering. Menunya harus memenuhi 3.500 kkal per hari. Harus ada buah-buahan. Mereka juga harus mengonsumsi multivitamin dua hari sekali. ”Kebutuhan untuk itu sudah dianggarkan. Semua sudah dihitung,” kata Dicky.

Masing-masing personel sudah punya tugas. Dicky sebagai ketua tim sudah bekerja sejak dua tahun lalu, mengajukan proposal kepada rektor. Namun, ”Proposalnya baru gol sembilan bulan lalu,” ungkapnya.

Sejak itu, dia menyiapkan pembekalan. Mulai fisik, penyediaan peralatan, perencanaan perjalanan, pengurusan paspor, perizinan ke Kenya dan Tanzania, urusan medis, pelatihan fotografi, serta penentuan instruktur.

Sementara itu, Ismail menyiapkan perlengkapan medis. Tak kurang dari 24 jenis obat bakal dibawa. Mulai obat diare sampai tabung oksigen. ”Ada dua obat yang tidak bisa ditinggal, minyak kayu putih dan minyak oles tradisional,” ujar mahasiswa Sastra Inggris itu. ”Minyak oles tradisional ini terbuat dari campuran minyak goreng dan irisan bawang merah. Dapat menjaga kondisi suhu tubuh dan baik dioleskan pada kaki untuk menjaga kelenturan kaki,” lanjut dia.

Ekspedisi selama dua puluh hari menuju puncak Uhuru, puncak tertinggi Gunung Kilimanjaro -5.895 meter di atas permukaan laut (mdpl)- dengan medan berat dan cuaca ekstrem tentu harus ditunjang perlengkapan cukup. Urusan itu menjadi tanggung jawab Awang.

Jauh-jauh hari, dia mencari peralatan bikinan luar negeri. Sebab, fungsi dan kualitas buatan dalam negeri belum memadai. ”Tapi, sudah hampir bagus,” ungkap Awang. Misalnya, tenda four season sulit didapat di dalam negeri. ”Kami dapat dari Australia,” katanya.

Kebutuhan matras, lanjut dia, bisa dieliminasi karena sleeping bag yang tersedia sudah minus 10. Artinya, dalam tekanan udara minus 10 derajat, sleeping bag masih bisa menahan dingin. Apalagi, mereka masih punya jaket bulu angsa yang sangat tebal. ”Kami dapat jaketnya dari pasar pagi Tugu Pahlawan,” jelas mahasiswa D-3 Bahasa Inggris angkatan 2006 itu.

Pakaian mendaki juga sudah siap. Misalnya, long john -pakaian dalam panjang terusan seluruh tubuh-, kaus katun, jaket polar, serta jaket wind breaker. Juga, baju tidur serta baju untuk bertemu wakil Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kenya. ”Bahkan, kami juga bawa kemeja, pantofel, dan jas almamater,” timpal Dicky.

Selain roti, susu, cokelat, dan sereal, mereka membawa peralatan memasak dan kompor spiritus. Sebab, mereka juga membawa beras lengkap dengan lauknya. ”Belum afdol kalau belum makan nasi,” ujar Dicky lantas tertawa. Bobot seluruh perlengkapan itu tidak boleh lebih dari sepertiga berat tubuh. ”Paling tidak 20 kg,” tegasnya.

Satu personel lagi, Catur Panggih Pamungkas, mengurusi masalah administrasi. Tapi, karena tim hanya berkekutan tiga orang, harus dilakukan seleksi. Dalam pengumuman Minggu lalu, Catur harus rela tidak berangkat.

Persiapan fisik merupakan hal paling penting dalam pendakian. Karena itu, tim perlu melakukan berbagai simulasi pendakian. Di antaranya, di Gunung Raung, Arjuno-Welirang, Argopuro, Penanggungan, dan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. ”Latihan itu untuk ketahanan tubuh dan meningkatkan kadar hemoglobin,” terang Dicky.

Gunung Bromo khusus untuk latihan medan berpasir. Sebab, meski bersalju, puncak Kilimanjaro juga berpasir. Latihan di Bromo merupakan simulasi akhir. Yakni, simulasi jalan. Mereka berjalan 15 km tanpa membawa beban tiap pagi selama dua hari.

Lalu, berjalan 15 km dengan membawa beban 20 kg. Tujuannya untuk tes kejenuhan dan kestabilan. Dari simulasi itu, diketahui berapa kecepatan jarak per orang. Yang kecepatannya paling lamban, dia yang tingkat kejenuhannya tinggi. ”Tingkat kejenuhan Catur paling tinggi,” kata Dicky.

Latihan di Gunung Raung yang medannya susah cocok untuk manajemen logistik. Saat berada di puncak Raung, kebetulan sedang hujan dan petir. ”Rambut sampai berdiri,” papar Dicky. Waktu turun, mereka harus merayap karena malam. Pendakian ke Gunung Raung itu dilakukan selama sembilan hari.

Pendakian di Arjuno-Welirang ditujukan untuk cek nadi dan latihan navigasi. Dari latihan itu, diketahui kecepatan nadi di ketinggian 3.000 mdpl. Demikian juga di Penanggungan. ”Dari situ bisa dibuat grafis kira-kira untuk ketinggian 5.000 mdpl bakal seperti apa,” jelasnya.

Di Gunung Argopuro, mereka berlatih jalan sekaligus simulasi pendakian 3.000 mdpl melalui track panjang. ”Energi terkuras karena oksigen tipis,” ungkap Dicky.

Selama latihan itu, mereka didampingi instruktur berpengalaman dari Wanadri Bandung. Kang Bongkeng namanya. ”Pengalaman Kang Bongkeng luar biasa. Hingga usia 59 tahun, dia masih aktif mendaki,” tegas Dicky.

Lebih lanjut dia menjelaskan, Kang Bongkeng tidak hanya melatih pendakian. Tapi, juga membentuk mental, kedisiplinan, teknik survival, serta teknik di ketinggian, termasuk pengetahuan tentang kadar oksigen. Pada ketinggian 3.000 mdpl, misalnya, kadar oksigen masih tergolong normal bagi para pendaki, sekitar 70 persen. ”Nah, setelah itu setiap ketinggian 1.000 meter, kadar oksigen akan semakin tipis,” papar mahasiswa FE Unair angkatan 2004 itu.

Kang Bongkeng juga membekali mereka pengetahuan serta pengalaman kegagalan teman-temannya dalam pendakian The Seven Summits itu. Di ketinggian, pendaki bisa menderita altitude mountain sickness (AMS), penyakit ketinggian di gunung.

Paling ringan, AMS bisa mengakibatkan pusing, tidak konsentrasi, dan kurang fokus. Karena itu, setelah ketinggian 3.000 mdpl, disarankan tidak terlalu ngebut berjalan sambil melakukan aklimatisasi. ”Kalau terlalu kencang, bisa shock,” tambah Catur.

Rencananya, perjalanan mereka melalui rute darat dari Naerobi, Moshi, menuju Lendoroshi Gate. Dari gate (gerbang) itulah pendakian dimulai. Sedangkan jalur turun melalui Mweka menuju Moshi dan Daarsalaam. Ada dua guide yang disiapkan pengelola taman nasional di sana untuk mengawal mereka.

Diharapkan, tepat 10 November mereka sudah berada di puncak Uhuru agar bisa memperingati Hari Pahlawan di sana. Acara itu menjadi bukti kegiatan kepemudaan yang positif sekaligus peringatan Lustrum XI Universitas Airlangga.

Tim ekspedisi ke gunung di Tanzania itu telah menjalani proses perekrutan panjang. Dari 12 kandidat, disaring menjadi tujuh, lima, empat, sampai terpilih tiga orang. Kilimanjaro dipilih, salah satunya, sebagai bentuk dukungan pada anti pemanasan global (global warming). ”Salju di puncak Kilimanjaro bisa jadi akan habis pada 2020,” terang Dicky.

Ekspedisi tersebut mendapat bantuan beberapa pihak. Meng-up date laporan, misalnya, dibantu Prof Soenarko. Guru besar Fakultas Kedokteran Unair itu juga memantau porsi latihan, konsultasi fisik, olahraga, larangan merokok, dan membekali materi pertolongan pertama gawat darurat.

Check-up lengkap dilakukan di RSUD dr Soetomo. Tim ekspedisi mendapat bantuan Prof Eddy Rahardjo, ahli anestesi. Semua gratis. ”Padahal, kalau bayar, biayanya bisa mencapai Rp 1 juta per orang,” ungkap Catur.

Mendaki salah satu di antara The Seven Summits bukan hanya butuh kekuatan fisik. Tapi, juga semangat, cita-cita, dan kebersamaan untuk sampai ke puncak tertinggi ke empat di dunia. Selamat berjuang.

(Jawa Pos, 27 Oktober 2009)

 

 

 

 

 

Iklan

27 Oktober, 2009 - Posted by | Berita Hangat

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: