BEM FEB UNAIR

Fakultas Ekonomi & Bisnis

PIMNAS XXII Malang: Belum Buka Sudah Menang

Meski PIMNAS XXII baru dibuka secara resmi pada 22 Juli 2009 namun Unair sudah menorehkan prestasi mengagumkan. Bagaimana bisa? Tahun ini memang terasa lebih istimewa. Sebab sebelum pembukaan resmi PIMNAS XXII juga diadakan Kompetisi Karya Tulis AlQuran (KKTA) yang merupakan bagian dari rangkaian lomba yang diadakan di PIMNAS XXII. KKTA diadakan pada tangga 19 Juli di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, tempat acara PIMNAS XXII berlangsung.

Dalam Kompetisi Karya Tulis Al Quran ini, Unair mengirimkan tujuh tim. Tujuh tim itu berasal dari Fakultas Ekonomi,Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilm Budaya dan Fakultas Keperawatan. Fakultas Ekonomi kemarin mengirimkan dua tim, dan kedua tim tersebut menang. Tim pertama adalah tim dari jurusan ilmu ekonomi yang terdiri dari dua mahasiswa, yaitu Muhammad Fajar Rahmadi dan Ragil Misas Fuadi. Tim ini lolos menduduki puncak peringkat pertama melalui karya tulis yang berjudul panjang ‘Aplikasi One Monetery Unit For One Real Asset (OMNIFORA) Sebagai Usaha Meminimlakan Decoupling: Sebuah Upaya Revitalisasi Perekonomian Indonesia dalam Menghadapi Krisis Finansial Global’.

Meski berjudul panjang, namun karya tulis yang sejatinya ‘singkat’ ini, hanya terdiri dari 15 halaman, mampu memikat para juri melalui presentasi tim yang sangat meyakinkan. Fajar, salah satu anggota tim mengatakan dalam lomba KKTA ini ia dan Ragil harus mampu menyisihkan 75 tim lain dari seluruh PTN se Indonesia. “Tidak gampang sebab ini adalah KKTA pertama. Namun modal kami adalah percaya diri. Apalagi ini merupakan lomba pertama yang akan membawa penetrasi yang baik bagi rekan-rekan kami yang akan berlomba di event PIMNAS ini,”tutur mahasiswa semester empat ini.
Dalam karya tulisnya ini, Fajar dan Ragil memaparkan gagasannya mengenai etika perdaganga dalam Islam. Mereka menyoroti tiga pilar yang saat ini masih kental dengan unsur-unsur ribawi. Ketiga pilar itu adalah perbankan, pasar financial meliputi saham dan obligasi serta perdagangan valas. Fajar mengatakan seharusnya system riil itu tumbuh seiring dengan system moneter. Namun yang terjadi di Indonesia, bahkan di dunia, tidak demikian. “Menurut saya seharusnya system moneter ini tumbuh seiring meningkatnya system riil dalam hal ini perdagangan. Dan yang terjadi malah sebaliknya, justru system riil yang terpuruk. Melihat hal itu jika dilihat dalam sisi etika, sudah selayaknya jika kita menerapkan etika perdagangan dalam Islam agar system riil kita tumbuh lebih baik,”jelas Fajar.

Fajar menyebutkan dunia perbankan Indonesia yang masih lekat dengan unsur riba. Masih ada system bunga yang tak hanya di perbankan konvensional, namun juga dalam hal obligasi dan perdagangan valuta asing. Di system bank syariah pun, Fajar melihat bank syariah di Indonesia belum berani menerapkan profit end loss sharing atau ketika perusahaan untung maka bagi hasil pun besar, namun jika perusahaan rugi seharusnya bank syariah pun harus berani merugi. “Sistem bagi hasil yang benar menurut saya seperti itu. Tapi bank syariah di Indonesia menerapkan system revenue sharing jika perusahaan untung besar bagi hasi besar namun jika perusahaan rugi, bank tidak mau ikut merugi,”jelas Fajar. ‘Keberanian’ Fajar dan Ragil dalam mengkritik system ekonomi dan etika perdagangan yang saat ini berlaku di Indonesia sepertinya berhasil memikat juri untuk memilih mereka menjadi juara 1.
Dan di event KKTA ini, Unair pun harus berbangga karena tim lain, masih dari Fakultas Ekonomi, juga meraih juara ketiga dari lomba KKTA ini. Tim ini berasal dari prodi D3 Akuntansi yang digawangi oleh Nurul Latifah dan Yusifa Nur Aulia. Mereka berhasil lolos setelah mempertahankan karya tulisnya yang berkaitan dengan hypnoparenting dan homeschooling untuk pembentukan kepribadian anak sesuai dengan tuntunan Al Quran. Nurul menceritakan ia dan Yusifa terinspirasi untuk menggabungkan konsep ini setelah melihat banyaknya perilaku menyimpang anak-anak yang jauh dari nilai-nilai Qurani. “Oleh karena itu kami memadukan hypnoparenting dimana orang tua harus berulang-ulang mengajarkan contoh yang baik pada anak dan orang tua juga harus aktif mendampingin anak melalui metode homeschooling. Tujuannya selain mendekatkan anak pada orang tua, juga untuk mengajarkan nilai-nilai Qurani yang dipelajari melalui contoh terdekat yaitu keluarga,”tutur Nurul. Menurutnya, usia anak 0-12 tahun adalah masa-masa yang paling efektif untuk mengajarkan tata cara Islami. “Masa nol sampai dua belas tahun adalah masa-masa emas bagi seorang anak. Jika tidak dimanfaatkan dan diolah dengan baik hasilnya tentu saja tidak bisa maksimal,”imbuhnya.

Iklan

8 Agustus, 2009 - Posted by | Berita Hangat

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: