BEM FEB UNAIR

Fakultas Ekonomi & Bisnis

Tarik Ulur Rencana Penertiban Rumah Dosen Unair

Rencana penertiban rumah dinas dosen di kawasan Kampus B Universitas Airlangga (Unair) masih terhambat. Hingga kini, belum ada titik temu antara rektorat dan para penghuni. Sebagian besar penghuni yang rata-rata pensiunan itu menolak untuk keluar dari aset milik negara tersebut. Rata-rata mereka baru mau pindah, asal ada kompensasi.

Bahkan, dalam pertemuan terakhir di aula Notonegoro Fakultas Ekonomi (FE) Unair Sabtu (28/3), ada sejumlah perwakilan penghuni yang melakukan aksi walk out. ”Ini kan salah pemerintah. Kenapa tidak dikelola dengan baik? Enak saja mau dipindah,” kata salah seorang penghuni rumah dinas saat keluar ruang rapat.

Sayang, pertemuan tersebut dilakukan tertutup. Wartawan tidak diizinkan masuk ke ruangan rapat. Rapat itu berlangsung mulai pukul 09.15 hingga pukul 11.30. Agenda rapat adalah sosialisasi rencana penertiban oleh rektorat dengan perwakilan penghuni rumah dinas.

Saat itu, rapat dihadiri 69 penghuni rumah dinas. Rinciannya, 25 orang warga rumah dinas di Jalan Airlangga, 24 warga Jalan Dharmawangsa Dalam Selatan, dan 20 warga Jalan Dharmawangsa. Dari pihak rektorat, hadir Rektor Prof Fasichul Lisan dan beberapa pejabat Unair lain.

Meski tertutup, agaknya pertemuan itu berlangsung hangat. Dari luar ruangan, samara-samar Jawa Pos mendengar adu debat dan argumen. Beberapa perwakilan penghuni bergantian menyampaikan pendapat. Mereka rata-rata tidak mau pindah begitu saja. Kalaupun tetap dipaksa keluar dari rumah dinas, tidak sedikit yang menuntut ada kompensasi atau ganti rugi.

Prof Widyoseno Gardjito, salah seorang penghuni rumah dinas di Jalan Dharmawangsa, mengungkapkan bahwa dirinya bukan berarti tidak setuju pindah dari rumah dinas. Dia menyatakan, keberadaan rumah dinas itu tidak bisa dilepaskan dari aspek sejarah berdirinya Unair. Menurut dia, dosen yang tinggal di kompleks rumah dinas tersebut adalah orang-orang yang memang dipilih oleh kampus.

Widyoseno menceritakan, ketika kali pertama berdiri, Unair butuh dan mencari dosen-dosen kredibel. Mereka lantas diberi fasilitas cukup. Satu di antaranya berupa fasilitas rumah dinas. ”Kenapa mereka ditempatkan di sini? Karena mereka adalah orang-orang yang siap untuk memajukan Unair, menjadi pelopor, dan siap membangun kampus itu,” ujarnya. ”Mereka itu para pejuang,” lanjutnya.

Selain itu, kata Widyoseno, hal itu juga terkait dengan aspek kesepakatan atau gentlement agreement. Meski tidak semua kesepakatan tertulis, dulu ada semacam perjanjian bahwa para penghuni perumahan dinas boleh tinggal sampai akhir hayat. Bahkan, janda-janda dosen yang tinggal di tempat tersebut juga diperbolehkan tinggal sampai meninggal. Atas kesepakatan itulah, tidak ada penghuni yang berpikir untuk pindah atau membeli rumah.

”Sebab, mereka memegang peraturan lama. Dan, peraturan itu yang menjadi pijakan dalam menempati rumah itu,” ujarnya.

Penghuni rumah dinas Unair lain, Ismail Panigoro, mengaku sadar bahwa dirinya menyalahi aturan yang ditetapkan pemerintah. Sesuai dengan aturan, orang yang tidak lagi menjabat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) harus meninggalkan rumah dinas. ”Saya memang orang-orang yang termasuk harus pindah dari sini,” katanya.

Namun, dia menyesalkan cara yang telah dilakukan Unair. Dia menilai, untuk menyelesaikan persoalan rumah dinas itu, Unair tidak melakukan pendekatan-pendekatan yang lebih humanis. ”Kami hanya dikirimi surat yang intinya diharapkan segera pindah. Yang diurus ini orang. Jadi, harus diorangkan,” ungkap pria yang pernah menjabat pembantu dekan di Fakultas Farmasi Unair itu.

Ismail menambahkan, prinsipnya warga siap pindah jika ada tunjangan atau kompensasi untuk bisa membeli rumah di luar area kampus. ”Kalau pindah, tidak ada duit. Pensiunan kami sedikit, di bawah dua juta. Tunjangan Rp 100 juta untuk biaya pindah dan beli rumah,” ujar pria kelahiran 14 Juli 1934 itu.

Sementara itu, Rektor Unair Fasichul Lisan mengusulkan agar membentuk tim kecil. Tim itu nanti yang bertugas menyelidiki persoalan yang terjadi hingga peraturan pemerintah yang dianut. ”Biar tim kecil ini yang akan mencari data-data di lapangan. Bahkan, kalau tim itu ingin berdialog dengan Depdiknas atau KPK (Komisi Pemberantasa Korupsi), kami siap memfasilitasi,” ujarnya.

Fasich menegaskan, jika warga tetap menolak pindah, pihaknya tidak bisa banyak berbuat. Sebab, Unair tidak memiliki hak dalam memberikan izin apa pun atas perumahan dinas itu. Perumahan dinas tersebut milik Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan bukan milik Unair. ”Posisi kami bukan pemilik. Tapi, pengelola keputusan negara. Jadi, kalau warga masih tetap berada di perumahan dosen itu, ya bergantung yang punya,” katanya.

Meski belum ada kepastian deadline dari Depdiknas menyangkut kapan penghuni rumah dinas itu harus pindah, Fasich berharap ada win-win solution. ”Jadi, masing-masing pihak sama-sama enak,” ungkap mantan dekan fakultas farmasi itu.

Sebagaimana pernah diberitakan, refungsionalisasi dan revitalisasi aset rumah dinas Unair terus disosialisasikan. Sebab, saat ini banyak yang dihuni pensiunan dosen yang tidak lagi berstatus PNS. Kebijakan itu sejalan dengan turunnya Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 039/M/2008 tentang Penetapan Rumah Dinas Golongan I di Lingkungan Unair.

Sesuai dengan kepmendiknas tersebut, hak penghunian rumah dinas terbatas selama pejabat bersangkutan masih memegang jabatan. Selain banyak dihuni para pensiunan dosen, tidak sedikit rumah dinas itu yang berfungsi sebagai tempat usaha. Mulai warung, wartel, salon, hingga disewakan sebagai kos-kosan. Setelah rumah dinas itu ditertibkan, rencananya akan dibangun gedung-gedung baru untuk pengembangan kampus. Mulai fasilitas apartemen untuk dosen, rusunawa untuk mahasiswa, hingga fasilitas olahraga.

(Jawa Pos, 30 Maret 2009)

Iklan

30 Maret, 2009 - Posted by | Berita Hangat

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: